Sabtu, 30 Juni 2012

Manusia dan Harapan (Tulisan 10) 

 Manusia dengan harapan.
 
Tentu banyak harapan yang dinginkan setiap manusia. Cerita ini adalah pengalaman saya tentang harapan.
Saat ini, yang saya harapkan tentu banyak. Misalnya saja, saya berharap saya bisa lebih dari apa yang ada di diri saya ini. Segala kekuarangan saya tentu ingin saya perbaiki, harapannya. Namun tidak semua dapat terjadi instan dan cepat. Semuanya butuh proses dan tentu kita akan lebih puas dengan hasil yang terproses dengan kerja keras diri kita sendiri. Misalnya saja fisik tubuh. Menurut saya, tubuh saya ini cukup gemuk dari angka normal badan ideal saya. Saya berharap saya memiliki badan yang ideal, namun otulah, proses yang saya butuhkan adalah dengan berolahraga dan membakar lemak-lemak saya.
Tidak hanya saya, orang lain pun mau memiliki badan yang ideal. Oleh karena itu biarkanlah kita mau berproses. Bukan kareana obat-obatan yang mengandung bahan kimia berbahaya yang tadinya kita mau kurus tetapi malah mengakibatkan kematian. Ada juga yang suntik sedot lemak, dan hal-hal praktis lainnyya. Dengan biasakan hidup sehat sudah menjadi hal yang paling benar dalam menjaga dan merawat tubuh kita ini.

Manusia dan Kegelisahan (Tulisan 9) 

 Manusia dan kegelisahan kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya tentang menunggu saat-saat atau detik-detik pengumuman ujian nasional. Suatu kegelisahan tersendiri buat saya, karena ujian nasional yang menentukan saya lulus atau tidaknya. Sewaktu menunggu hasil ujian nasional SMP, saya menunggu di depan telephone rumah saya, karena pemberitahuannya lewat telephone rumah. Setiap ada telephone yang masuk saya cemas apakah saya lulus atau tidak. Ternyata Puji Tuhan saya lulus J
Lalu saat saya SMA, pengumuman kelulusan saya beda sistemnya dengan saat saya SMP dulu, semua anak-anak dikumpulkan di lapangan, lalu dibagikan kertas dan maju satu persatu. Saat kita bersama-sama melihat kertas itu, kita akan melihat apakah kita lulus atau tidaknya. Dan Puji Tuhan bahwa saya dinyatakn lulus dan sekolah saya memang lulus 100%.
Sebenarnya banyak kegelisahan-kegelisahan lain yang tidak bisa saya ceritakan satu persatu. Setiap manusia pasti pernah yang merasakan yang namanya gelisah. Tapi kalau kita yakin dengan apa yang kita lakukan adalah sesuatu hal yang benar, tidak perlu gelisah
 Manusia dan tanggung jawab kali ini adalah pengalaman saya tentang bagaimana diberikan tanggung jawab dari hal yang kecil. Kita sebagai anak tentu diberikan tanggung jawab untuk membahagiakan orang tua. Dengan banyak hal kita dapat membahagiakan orang tua, dengan misalnya melakukan yang terbaik dari kita agar mendapatkan nilai yang bagus, mempunyai banyak teman, dan selalu turut apa yang diperintahkan orang tua. Tanggung jawab dari kecil itu lah yang harus terus kita bina samopai tua nanti.
Selanjutnya di sekolah misalnya. Misalnya dikelas kita diberi kuasa sebagai ketua kelas ataupun seksi-seksi lainnya. Kita harus bertanggung jawab pula dalam hal itu. Jika diberi wewenang untu menjadi bendahara misalnya, lakukan tugas untuk menjadi bendahara yang baik, bgitu pula yang lainya.
Lalu pengalaman saya ketka SMA, saya diberi wewenang untuk menjadi ketua paduan suara di sekolah saya, tentu tanggung jawab yang cukup berat bagi saya ketika saat itu saya hanya mejadi siswa biasa-biasa saja.  Dan banyak tanggung jawab lainnya yang harus kita pergunakan sebaik-baiknya untuk bekal di hari tua nanti.

Manusia dan Pandangan Hidup (Tulisan 7) 

Manusia dengan pandangan hidup. Apa yang kalian pikirkan tentang topic ini? Kalau apa yang saya pikirkan tentang pandangan hidup, saya melihat kepercayaan saya terhadap agama saya. Pandangan hidup saya adalah saya mentaati semua ajaran-ajaran yang diajarkan oleh agama saya, yaitu Katolik. Walaupun semua ajaran agama di dunia ini pasti sama. Semua kehidupan yang ada di dunia berasal dari yang diatas. Allah menciptakan manusia, semua manusia yang ada di dunia. Baik cacat, sehat, cantik, tampan, dll. Seperti yang ada di diri saya ini, saya masih mempunyai keluarga yang utuh, teman-teman yang baik, fasilitas-fasilitas yang Tuhan masih berikan pada saya, semua itu tanpa kita sadari datangnya dari yang diatas, melalui perantara-perantara. Dari pada itulah, kita bersyukur atas hidup ini. Jangan sia-siakan hidup ini. Tidak hanya menjaga hidup kita sendiri, tetapi kita juga bisa menjaga hidup orang lain dengan menghargai dan menghormati sesama, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, berbuat baikalah selalu, ikhlaskan segala hal dalam melakukan sesuatu, dan ajaran-ajaran baik lainnya. Percayalah, hidup akan semakin indah pada waktunya

Manusia dan Keadilan (Tulisan 6) 

 Topic yang akan saya bahas kali ini adalah tentang manusia dan keadilan. Menurut kalian, apakah bangsa kita ini sudah cukup adil? Ya, jawabannya belum. Mengapa belum? Karena peraturan di Negara kita ini tidak cukup ketat, sehingga mudah untuk semuanya melanggar dan bahkan kalian kenal saat ini ada yang namanya kasus suap. Ini adalah bibit-bibit ketidak adilan di Negara kita ini.
Pernahkah kalian mendengar tentang seorang anak yang mencuri sandal dan dihukum dengan bertahun-tahun di penjara? Sedangkan seseorang yang melakukan korupsi malah tidak diadili atau lama dalam penanganannya? Kita lihat betapa tidak wajarnya kasus dengan hukumannya dalam 2 kasus tersebut. Tetapi itulah manusia. Sebesar apapun kekuasannya, pasti akan disalahgunakan dengan manusia itu. Sebanyak apapun hartanya, pasti akan disalahgunakan juga. Mereka piker bahwa dengan besarnya kekuasaan atau hartanya semua akan baik-baik saja. Padahal disitulah awal mula keterpurukan, karena masyarakat akan mencibir denan kata-kata pedas. Begitu mudahnya pemerintah sekarang melakukan hal keji tersebut. Kita yang mencari uang, mereka dengan enak ‘memakannya’. Tetapi itulah ‘budaya’ Negara kita. Bisa tidak bisa, mau tidak mau kita hraus menerimanya. Walaupun bisa diperbaiki sedikit demi sdikit, namun lama membersihkannya, karena semua kembali ke pribadi masing-masing.

Manusia dan Penderitaan (Tulisan 5)

 
Sekarang topic yang akan dibahas adalah manusia dengan penderitaan. Kapan terakhir kali kamu merasakan penderitaan? Tentu kapanpun merasakan penderitaan, pasti rasanya akan terus dikenang karena tidak bisa dilupakan. Sama dengan pengalamanku yang akan aku ceritakan.
Saya merasakan penderitaan itu ketika saya sakit demam berdarah saat saya umur 14 tahun. Saat itu saya merasakan gejala-gejala seperti panas, meriang, dll. Saya kira waktu itu hanya masuk angin saja. Setelah seminggu dirumah dan tidak ada perubahan, saya dibawa ke dokter oleh orang tua saya, lalu diberi obat. 3 hari setelahnya kembali saya tidak menunjukan keadaan membaik. Lalu orang tua saya menganjurkan untuk cek darah, lalu ya, saya terkena tifus dan gejala demam berdarah. Langsung orang tua saya membawa saya ke rumah sakit Carolus di daerah Jakarta. Disana saya mendapatkan penanganan yang sangat baik dan ramah-ramah. Tetapi saya sangat menderita, karena selama saya sakit dari hari pertama itulah, saya disuntik sebanyak 9 tusukan di daerah tangan, 25 botol infuse, dan saya saat saya berada di rumah sakit itulah saya hanya bisa terbaring lemas dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Saya merasakan penderitaan yang luar biasa, jelas karena saya tidak bisa mengikuti kegaiatan belajar mengajar di sekolah dan saya harus mengejar ketinggalan saya. Di lain sisi, ketidakberdayaan itu sangatlah tidak enak. Sehat itu mahal harganya. Oleh karena itu jagalah kesehatan kalian dengan rajin-rajin berolahraga, makan makanan yang sehat, minum air putih yang banyak, dan biarlah aura positif kelaur dari diri anda, dengan selalu banyak tersenyum dan mengontrol emosi kalian. Terimakasih sudah membaca 

Manusia dan Keindahan (Tulisan 4) 

 Keindahan adalah anugerah Tuhan yang tak ternilai kita dapatkan setelah kesempurnaan sebagai manusia. Pernah suatu hari saya pergi ke puncak untuk mengadakan acara tahun baru. Sesampainya saya disana saya melihat begitu banyak bunga yang ada di sekitar halaman villa saya. Yang saya pahami dari hal sekecil ini saja, begitu besar karya Tuhan yang hal yang hanya dipandang sekilas oleh beberapa orang saja adalah hal yang sungguh luar biasa, apalagi keindahan-keindahan lainnya. Keindahan yang terlihat jelas disini adalah alam. Begitu Tuhan menciptakan alam yang indah dan manusia harus merawatnya. Namun apakah iya manusia merawatnya? Hanya sebagian kecil dan itupun belum sempurna. Dan bahkan yang ada manusia hanya merusaknya dengan anggapan bahwa nanti alam akan tumbuh dengan sendirinya. Padahal tidak. Walaupun ‘ya’ tetapi manusia harus tetap mendukung alam itu sendiri. Jadi kita sebagai manusia, jika masih ingin melihat keindahan, layaknya kita juga harus merawat, melindungi dan menjaga seperti kita menjaga diri kita sendiri.